Saat Berharga Untuk Anak Kita




Anak-anak adalah titipan yang sangat berharga. Banyak orang tua yang mengatakan melakukan segala sesuatu demi anak. Pergi pagi, pulang malam, bekerja keras, dan bilang semua ini dilakukan demi anak. Hilir mudik antar jemput ke sekolah dan berbagai tempat les, semuanya dilakukan demi anak. Setiap orang tua, tentunya ingin yang terbaik untuk anaknya.

Namun kadang, apa yang dilakukan orang tua, dan dikatakan demi anak, bertentangan dengan apa yang dimaui anak. Orang tua pulang kerja, capek, sementara anak-anak ingin ditemani bermain. Ngajak main bola, ngajak main kuda-kudaan, sementara rumah pun dalam kondisi berantakan. Seberapa orang tua bisa bersabar? Seberapa lama orang tua bisa betah menemani anak-anak bermain, sebelum meninggalkan mereka dan mengunci diri di kamar?

Saat orang tua mencuci piring, tiba-tiba si kecil ikut nimbrung. Apa yang ada dibenak orang tua? Membiarkan si kecil membantu, sebagai pembelajaran bagi dia. Dengan resiko pekerjaan jadi tambah lama dan mungkin jadi ada yang berantakan. Mungkin mencucinya tidak bersih, atau bisa jadi malah ada piring yang pecah karena licin dan tidak dipegang dengan kuat. Atau melarang si kecil, dan menyuruhnya duduk manis saja di depan TV. Dengan alasan agar pekerjaan cepat selesai dan dapat segera mengerjakan pekerjaan yang lain.

Saat si anak ingin mencium adiknya yang masih bayi yang sedang tidur lelap, apakah orang tua akan membiarkannya? Mengamati sambil tersenyum karena si kakak terlihat menyayangi adiknya. Atau akan melarang dengan alasan takut si bayi akan terbangun lalu menangis dan akhirnya membuat orang tua jadi repot.

Berharap si bayi tak terbangun

Begitulah sebagian kecil hal yang disinggung dalam buku “Saat Berharga Untuk Anak Kita”. Buku ini ditulis oleh Mohammad Fauzil Adhim, seorang psikolog. Bagi yang tinggal di Jogja, atau pernah kuliah di Jogja, insyaallah tahu siapa beliau ini. Saya sendiri, waktu jaman kuliah dulu, pernah sekali menghadiri sebuah seminar yang menghadirkan beliau sebagai pembicaranya.

***

Buku ini banyak menyentil orang tua, tentang bagaimana mereka memperlakukan anak-anaknya yang masih kecil. Paling tidak, saya pun beberapa kali tersentil. Saat anak-anak ingin membantu menyemprotkan cairan pelicin saat saya sedang menyetrika. Maka saya harus menghela napas dulu sebelum menganggukkan kepala. Helaan napas untuk menambah stok sabar, karena pekerjaan menyetrika pasti bakal jadi lebih lama.Udah gitu semprotannya kadang malah dibuat mainan. Semprot tembok lalu di lap dengan tissue. Menirukan gaya orang membersihkan kaca.

Kalau sedang terburu-buru, saya pasti menggelengkan kepala tanda tak mengijinkan. Gelengan kepala bukan berarti menyelesaikan masalah, karena anak-anak pasti akan bertanya “Terus tugasku apa, aku kan mau bantu mama”. Sekali waktu terlontar kalimat “Kalau mau bantu mama, main aja berdua di ruang sebelah, biar mama cepat selesai” Namun tak sampai lima menit, langsung disusul rasa sesal. Lalu dihentikanlah kegiatan menyetrika. Dan bergabung bermain bersama mereka. Anak-anak itu yang utama, setrika bisa lain kali.

Dan yang paling membuat saya merasa tersentil banget adalah pada bagian mencium adik bayi yang sedang tidur lelap. Memiliki adik bayi, tentu membuat babang dan kakak gemas setiap saat ingin mencium adiknya, apalagi kala adiknya habis mandi. Nah kala si Okto sedang lelap, mereka berdua ini sering banget mendekat, colek-colek pipinya, cium-cium bahkan nyuruh adiknya bangun. Saya biasanya melarang mereka, jangankan cium-cium, mendekat aja saya larang, takut si adik jadi terbangun, terus nangis, kan saya juga yang repot.

Bukan cuma anak-anak, suami pun sayang larang mendekat kalau Okto sedang tidur. Kadang suami jadi cemberut, kala baru pulang kerja terus masuk kamar dan pengen cium Okto. “Aku kan kangen dedek Okto” katanya setiap kali saya beri isyarat untuk tak ‘mengganggu’ okto yang sedang tidur.

Jahat banget ya saya hehehe…

***

Balik lagi ke buku Saat berharga untuk anak kita. Buku ini terdiri dari lima bagian yaitu semuanya bermula dari niat, membangun jiwa anak, titip rindu buat anak, menghukum dengan kasih sayang,  dan mempersiapkan masa depan anak.

Semuanya bermula dari niat

Bagian ini membahas mengenai kebaikan dalam bermain-main dengan anak. Berisi kisah-kisah para sahabat Nabi, baik yang tidak akrab dengan anak-anak maupun yang akrab dengan anak-anak. Di bahas pula bagaimana Nabi Muhammad akrab dengan anak-anak, berperilaku seperti anak-anak saat bermain dengan mereka.

Bagian ini juga sebagai refleksi bagaimana kini banyak orang tua lakukan untuk mendidik anak-anak yang sebagian besar berorientasi pada dunia. Sekolah mahal, aneka macam les dan kursus, agar mereka kelak mendapat pekerjaan yang layak.

Kita menginginkan mereka mendengar setiap perkataan kita, tetapi kita lupa belajar mendengar suara nurani mereka.

Membangun jiwa anak

Bagian ini membahas pentingnya kedekatan anak secara emosi dengan kedua orang tuanya. Bagaimana membangun kedekatan dengan anak. Bagaimana membangun kredibilitas orang tua di hadapan anak, jangan sampai ayah melarang tapi ternyata ibu membolehkan.

Pernah merasa “kok anak saya kemampuannya lebih rendah dibanding anak-anak seusianya ya?” Nah hal ini dibahas pula disini. Intinya adalah penerimaan. Terimalah kemampuan anak-anak, walau menurut kita itu jauh dibawah kemampuan anak tetangga. Berhentilah membandingkan anak-anak, baik dengan saudaranya sendiri ataupun dengan teman-temannya.

Mereka bahagia jika berdekatan dengan kita, bukan karena uang yang kita berikan, tetapi karena waktu yang kita luangkan untuk bercanda dan berbincang bersama mereka

Titip rindu buat anak

Bagian ini membahas bagaimana emosi orang tua kala bersama anak-anak. Mengelola emosi ini penting, baik emosi positif maupun negatif. Kala badan lelah, setiap “ulah” anak bisa saja membuat amarah  tersulut. Saat ingin istirahat sejenak, tapi anak-anak malah berkejaran dan berteriak-teriak. Bagaimana jika hal ini terjadi pada Anda, bagaimana menyikapinya?

Omongan tetangga pun kadang bisa mempengaruhi perlakuan orang tua pada anaknya, apalagi jika orangtuanya mudah baper. Saat pergi ke undangan, mulut anak belepotan makanan, bajunya basah terkena tetesan air minum karena dia memaksa untuk minum sendiri. Hal begini saja bisa lho jadi bahan lirikan, teguran, bahkan gunjingan tetangga. Nah, mau nuruti omongan tetangga lalu menyuapi anak, atau membiarkan anak tetap bereksplorasi dan berusaha makan sendiri?

Hilangnya kesabaran menghadapi anak, kadang karena kita lupa bahwa diantara keutamaan menikah adalah untuk memperoleh keturunan. Kita membatasi berapa anak yang akan kita lahirkan demi alasan kesejahteraan dan kemakmuran, sembari tanpa sadar kita melemahkan kesabaran dan kegembiraan kita menghadapi anak-anak.

Menghukum dengan kasih sayang

Bagian ini membahas mengenai amarah. Pernah marah pada anak karena merasa anak telah melakukan kesalahan? Rata-rata orang tua akan merasa menyesal setelah memarahi anak. Ada yang bergegas menghampiri anaknya, memeluk lalu mengucapkan kata maaf. Ada pula yang merasa malu pada anak untuk menunjukkan rasa penyesalannya itu.

Dibahas pula bagaimana kalau terpaksa harus menghukum anak karena anak telah melakukan kesalahan. Jangan sampai orang tua tidak kompak. Ayah menghukum, sementara ibu membela. Hal ini akan menjatuhkan kredibilitas orang tua. Apalagi kalau sampai orang tua bertengkar karena berbeda pendapat dalam memperlakukan anak.

Memarahi anak dengan serangan bertubi-tubi, keras, penuh ancaman dan reaktif, tidak membuat anak menjadi baik.

Mempersiapkan masa depan anak

Bagian ini membahas tentang pendidikan pada anak. Kita persiapkan untuk menjadi apa dan bagaimana anak-anak kita kelak. Bekali anak dengan budi pekerti yang baik. Kala anak ingin menolong mencuci piring, apakah dilarang atau di perbolehkan? Jika sering dilarang, maka dia nantinya tak akan punya kepedulian kala tumpukan piring kotor menggunung. Tak ada inisiatif untuk mencuci.

Berusaha memberikan pendidikan terbaik, baik di sekolah maupun di rumah belum menjamin anak akan menjadi baik kala dewasa kelak. Karena itu, doa dan pengharapan baik harus selalu dipanjatkan untuk kebaikan anak-anak.

Banyak orang tua yang berhasil mendidik anaknya bukan karena kepandaiannya dalam mendidik anak, tetapi karena doa-doa mereka yang tulus.

***

Bagi orang tua, yang kadang bingung memahami apa maunya si kecil, ada baiknya anda membaca buku ini. bagi orang tua, yang kadang jengkel melihat ulah anak-anaknya, ada baiknya anda membaca buku ini.

53 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *