Parenting

Terimakasih Nak, untuk Ketaatanmu pada Aturan Keluarga Kita

Seminggu yang lalu kami mudik ke rumah ortu. Pagi-pagi anak-anak pergi ke rumah budhenya yang berjarak sekitar 1 km dari rumah ibu saya. Sementara saya dan si bungsu tetap di rumah. Sekitar 1 jam kemudian, kakak saya datang, tanpa anak-anak. Menanyakan apakah kami sudah masak, karena anak-anak saya minta makan nasi. Kebetulan kakak saya pagi itu belum masak.

Saya pun bilang ke kakak, anak-anak suruh pulang dulu, makan di rumah aja, nanti habis makan baru ke sana lagi. Dijawab sama kakak, bahwa tadi anak-anak diajak ke pasar, dibelikan jajan. Tapi mereka nggak mau makan jajan, karena kata mama biasanya harus makan nasi dulu baru boleh makan jajan.

Dan saya pun lalu terdiam. Antara rasa bangga dan juga terharu. Apalagi setelah kakak saya bilang bahwa dia sudah memaksa anak-anak untuk tetap makan jajan aja, toh mamanya nggak ada disitu, budhe juga nggak akan lapor.

Makin tak bisa berkata apa-apa.

Wajib sarapan sebelum ngemil jajanan

Terus terang saya bangga. Bangga dengan anak-anak. Walau tak ada saya, mereka tetap mematuhi aturan yang telah kami sepakati bersama. Boleh aja mereka makan jajan, snack, biskuit. Tapi setelah sarapan. Sarapannya bisa nasi, roti tawar atau pisang goreng+susu.

Saya bangga, bahwa mereka setia memegang prinsip dan kebiasaan itu. Walau dibujuk, mereka tak goyah. Mereka tak mau menuruti bujukan itu. Bahkan malah budhenya yang dapat nasihat dari babang. Saya ketawa-ketawa aja waktu kakak saya cerita kalau dia bujuk babang, eh malah di kasih “ceramah” sama babang.

Tentu bukan perkara mudah mengajari anak untuk taat aturan. Perlu komitmen yang kuat dari kedua orang tuanya. Jika saya melarang mereka makan jajan sebelum sarapan, maka saya pun harus mencontohkan hal yang sama. Tak boleh ngemil sebelum makan nasi.

Jika saya melarang mereka membuang sampah sembarangan, maka sayapun harus mencontohkannya pula. Kalau sedang dalam perjalanan, sampah disimpan dulu di mobil. Sampai lokasi, baru deh plastik sampah dikeluarkan dan dibuang ke tempat sampah. Nggak pernah lalai? Pernah dong!

Kadang habis makan permen, suami main buang aja bungkus permennya ke luar jendela. Langsung deh dapat “ceramah” dari babang. “Papa itu buang sampah sembarangan, kan di mobil kita ada tempat sampah. Nanti kan sampahnya bisa kena pengendara lain. Nanti kan sampahnya bisa bikin jalan kotor. Nanti kan sampahnya bisa terbawa ke sungai. Nanti kan bisa jadi banjir….”

Saya senyum-senyum aja. Dalam hati bilang “Kena kau!”

Pernah juga kejadian saat mengisi bbm di SPBU. Masih ada antrian 2 mobil di depan, maka saya pun mengeluarkan hp. Langsung deh kena tegur sama babang. “Mama… nggak boleh menggunakan hp. Itu lho ada tanda gambar hp di coret. Kalau ada gambar itu, artinya nggak boleh. Bahaya, ma… Nanti kalau mobil kita meledak gimana?….”

Baiklah nak. Emaknya antara seneng dan sebel. Seneng karena si bocah taat aturan. Sebel karena nggak bisa ngecek kali aja ada pesan penting. Antara manyun dan pengen tersenyum. Manyun karena barusan dinasihati sama anak kecil. Tersenyum karena bangga si bocah tak segan menegur orang tuanya yang berbuat lalai.

15 thoughts on “Terimakasih Nak, untuk Ketaatanmu pada Aturan Keluarga Kita

  1. Anak2 itu belajar dari meniru. Kadang si ibu sudah memberi contoh berkali-kali tapi si anak tidak mengikuti. Ternyata si bapak yang tidak kompak.Heheheheee….

    1. Amiin… dengan dibiasakan sedari kecil dan ada contoh dari orang tuanya, insyaallah bisa bertahan sampai mereka dewasa

  2. memang aturanb dan disoplin mulai drai sejak dini, jangan pernah bilang ah gak apa masih kecil ini. Aku suka kesal dengan anak2 yang gak taat aturan dan ternyata krn ibunya gak pernah menanamkan pentingnya mentaati aturan

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis