Manajemen Keuangan Keluarga di Masa Pandemi Covid-19

manajemen keuangan

2,5 bulan sudah kita lebih banyak beraktivitas di rumah saja demi mencegah penyebaran virus covid-19. Tentu banyak penyesuaian yang dilakukan karena adanya perubahan pola maupun gaya hidup. Salah satu penyesuaian yang saya lakukan adalah dalam hal manajemen keuangan.

Pandemi Covid-19 memang mengakibatkan banyak perubahan dalam segala sektor kehidupan kita. Kerja, belajar dan beribadah pun dilakukan dari rumah. Perubahan yang awalnya berat untuk di jalani, namun lama-lama jadi terbiasa juga. Hingga ada istilah new normal. Kenormalan baru dalam berbagai bidang.

Dalam hal keuangan keluarga saya, tentu saja terjadi perubahan juga. Jumlah pemasukan yang berkurang, sementara cicilan rumah harus terus di bayar.

Dari sisi suami yang mengandalkan pendapatan dari hasil pertanian, pandemi ini juga sempat membuat frustasi. Bagaimana tidak, jika hasil panen buncis yang biasanya harga berfluktuatif dari 2000 hingga 8000 rupiah per kilo, kini hanya laku 500 rupiah per kilo. Untuk bayar upah buruh yang metik aja 30 ribu per hari. Jelas nggak nutup kalau diperhitungkan juga dengan modal tanam dan perawatannya.

Nggak cuma buncis, sayuran lain pun harganya juga jatuh. Makanya kemarin sempat ada pedagang yang sampai membuang banyak sayuran, bahkan membagi-bagikan gratis pada para pengendara yang lewat.

Dari sisi saya yang ASN, memang masih ada gaji tetap setiap bulan. Tak ada lagi kegiatan dinas luar, tak ada lagi kegiatan workshop di luar kantor. Otomatis pendapatan saya juga berkurang.

Menyiasati turunnya pendapatan ini, memang perlu dilakukan juga pengelolaan manajemen keuangan baru dalam keluarga saya. Dan berikut ini adalah penyesuaian-penyesuaian yang kami lakukan

  1. Biaya untuk gaya hidup dikurangi. Nggak ada lagi piknik, nggak ada jalan-jalan ke mall plus makan siang di warung. Eh, tapi kan walau di rumah aja, tetap bisa jajan via online? Sesekali masih boleh lah, kan bosan juga kalau makan masakan rumah terus.
  2. Karena tahun ini nggak mudik, maka biaya yang semula dipersiapkan buat mudik, bisa dialokasikan untuk hal lain. Masih tetap aman di tabungan sih, nanti kalau sudah kepepet, bisa dipakai buat kebutuhan sehari-hari.
  3. Cicilan rumah harus tetap di bayar, untungnya langsung potong gaji saya, jadinya nggak mungkin bakal nunggak.
  4. Biaya sekolah gimana? Anak-anak homeschooling, jadi nggak perlu ribet dengan biaya sekolah. Bagi kami yang ada adalah biaya belajar. Karena di rumah aja, biaya belajar juga bisa di tekan. Nggak ke toko buku dan borong buku, nggak berkunjung dan belajar ke pantai, kebun, taman. Kunjungan dan belajarnya sekarang virtual saja.
  5. Jajan camilan berkurang. Karena saya juga lebih banyak di rumah saja, jadi kalau pengen ngemil ya bikin aja sendiri. Dan ini bisa mengurangi banyak uang jajan lho ternyata. Emang sih butuh lebih banyak usaha dan kreativitas juga.
  6. Buruh tani yang kerja di kebun, terpaksa kami minta berhenti dulu. Hasil kebun sudah nggak bisa buat bayar tenaga mereka. Suami pun bekerja ekstra keras mengolah tanah dan juga merawat tanaman di kebun.

Itulah beberapa penyesuaian dalam manajemen keuangan keluarga saya. Yang paling banyak saya rasakan sih latte factornya banyak berkurang hehehe…. Nggak ada lagi bocor-bocor dalam hal keuangan. Kalau dulu kan pengen apa-apa, langsung aja meluncur ke minimarket dekat rumah. Lihat barang-barang lucu di marketplace ya enteng aja masukin keranjang belanja dan bayar. Kalau sekarang nggak lagi, jadi bisa lebih hemat deh.

Emang sih, di masa pandemi ini, kita harus mengutamakan kesehatan. Jaga kesehatan, makanya aktivitas lebih banyak dilakukan di rumah aja. Selain sehat jiwa raga, perlu juga diperhatikan kesehatan keuangan lho.

Kalau kamu, apa aja penyesuaian dalam hal manajemen keuangan yang dilakukan dalam masa pandemi Covid-19 ini. Share dong di kolom komentar.

18 Comments

  1. Menjaga keuangan di masa pandemi ini memang penting. Godaan memang selalu ada, misalnya saat buka Marketplace tertentu, tapi lagi-lagi yang kita pikirkan beli sesuai kebutuhan bukan keinginan.

  2. Beneran harus mengencangkan ikat pinggang selama pandemi. Harus bijak perencanaan pengeluaran keungan. Karna kita ngga tau pandemi sampai kapan. Semoga cepat berlalu.

  3. Wah, dari sisi keuangan aku sangat ekstra berhemat, Mbak. Benar-benar memasak sendiri di rumah demi keekonomisan dan higienitas, hehehe …

    Terasa banget kok pendapatan turun jauh, tapi kebutuhan hidup meningkat. Pengeluaran terbesar ada di dapur ya karena anggota keluarga banyak yang bekerja hanya dua orang. Belum lagi kebutuhan makanan suka beda karena ada yang sakit. Terus kok ya anak-anak selera makannya meningkat drastis, hahaha …

  4. Kalau disederhanakan, emang kudu mengencangkan ikat pinggang di masa pandemi ini. Tapi kita nggak sendiri, banyak orang lain yang bersama-sama melewati badai meskipun menggunakan perahu yang berbeda

  5. Betul sekali mbak. Sedapat mungkin kita meminimalisir keperluan yang tidak seharusnya diutamakan. Ibulah yang mengatur segalanya.

  6. Wah turut prihatin dg nasib para buruh hariannya ya Mbak,, tp mau gimana lg gak mgkin maksa cari upah mereka dr mana pusing jg ya… Langkah² mbak sudah bener itu, lanjutkeun

  7. Sama mbak, aku juga jadi jarang jajan. Lebih memilih makanan rumah aja, akhirnya mau gak mau ya masak hehe. Selain lebih hemat, juga lebih bersih 🙂 Semangat buat kita semua ya mba 😊

  8. Memang sekarang ini serba berubah dan menuntut peneysuaian ya mbak, saya yang masih kuliah juga menyesuaikan kuota dan mencari penghasilan sampingan setiap bulan karena nggak ada lagi uang saku hahahaha

  9. WAh! Ternyata anak-anak homeschooling ya Mbak. Keren banget lho. Banget malahan, karena kan bisa dikatakan dua orangtua bekerja, ya.
    Btw, buncis sempat 500 per kg? HIks…. ngeri sekali Mbak.

  10. bener nih mba, meski suami saya masih bekerja seperti biasa. tapi kami mengurangi investasi dulu. yang biasanya ada tabungan investasi tiap bulan. tapi karena pandemi kita gak tau kedepannya bagaimana. jadi lebih milih nabung uang cash di celengan untuk jaga-jaga hehe. ya semoga pandemi ini sekrang berakhir dan kita bisa beraktivitas seperti biasanya lagi. Aamiin

  11. Betul mbak, pengeluaran harus ekstra hati-hati, sehemat mungkin. Mencari peluang2 baru untuk Pemasukan. Jual apa saja yg bisa dijual dan gak kepake he he

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan ini, ditunggu komentarnya. Please... jangan meninggalkan link hidup ya