Oktoku,  Parenting

Begini Caraku Merawat Bayi Berat Badan Lahir Rendah

4 Oktober 2016 dini hari, melalui persalinan normal, lahirlah anak ketiga saya. Bahagia dan lega setelah bidan yang menolong persalinan saya menyatakan bahwa bayi saya sehat dan lengkap semua anggota tubuhnya. Namun saya sempat tercekat saat bu bidan mengatakan bahwa bayi saya kecil, beratnya cuma 2,3 kg. Hah, kok bisa? Padahal saya nggak pernah membatasi asupan makan, berat badan saya juga naik lebih banyak dibandingkan saat hamil anak pertama dan kedua. Tapi kok, bayi saya kecil. Jadi, makanan itu jadi lemak di tubuh saya, bukan terserap ke bayi saya?

Baca juga : Kelahiran Anak ke tiga

Sore harinya, datang dokter memeriksa bayi saya, lalu meminta catatan kehamilan saya. Saya dari anak pertama, memeriksakan kehamilan dan melahirkan di klinik ini, jadi beberapa bidan sudah kenal dan tahu riwayat kehamilan dan kelahiran dari anak pertama hingga ke tiga. Setelah di periksa, dokter bilang nggak apa-apa bayinya beratnya segitu, karena sudah cukup umur, tidak masalah. Beliau berpesan, harus banyak di beri ASI supaya berat badannya segera naik.

Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan lebih rendah dari berat badan bayi rata-rata. Bayi dinyatakan mengalami BBLR jika beratnya kurang dari 2,5 kilogram, sedangkan berat badan normal bayi yaitu di atas 2,5 atau 3 kilogram. Ya, anak ketiga saya termasuk bayi BBLR. Dan dari hasil observasi, penyebabnya adalah karena ada masalah pada plasenta, sehingga bayi kekurangan asupan nutrisi.

Saya pun membesarkan hati, saya nggak boleh galau. Si bayi sudah terlahir, tak apa beratnya cuma segitu. Nggak bisa besar di perut, ya sudah dibesarkan di luar perut saja.

Apakah benar saya nggak galau?

Salah sodara-sodara. Saya sudah pasti galau dong. Apalagi bayi saya tidak segera dapat suntikan imunisasi hepatitis B, yang biasanya diberikan pada bayi yang baru lahir. Bidan menyatakan, tunggu seminggu ya, saat beratnya sudah 2,5 kg. Jadi saya punya waktu 1 minggu untuk menaikkan berat badan si bayi. Saat itu saya nggak bertanya apa alasannya kenapa harus nunggu beratnya 2,5 kg.

Makin galau lagi, karena sampai umurnya 2 hari, ASI saya belum keluar. Setelah konsultasi dengan dokter, akhirnya kami memutuskan untuk memberikan sufor untuk bayi saya. Saya bertanya susu apa baiknya. Dokter dan bidan memberikan 2 alternatif yaitu preNAN dan SGM BBLR.

Tentu saja saya ingin yang terbaik buat anak saya, maka saya minta rekomendasi dokter, diantara keduanya, mana yang harus saya pilih. Dokter merekomendasikan preNAN. Tapi di klinik itu tidak tersedia, jadi saya harus cari sendiri di luar.

 

Mulailah suami mencari susu itu ke beberapa apotik besar di Malang. Dua apotik dan satu supermarket besar di datangi, tapi tak ada yang menjual susu itu. Kami sudah hampir berbelok ke SGM BBLR, sampai akhirnya ada teman yang menyarankan untuk mencari ke supermarket “tua” yang ada di Malang. Alhamdulillah, ternyata di sana ada.

Hari ketiga, saya pulang. ASI belum juga keluar. Makan banyak sudah, ngemil sayur daun katuk sudah, minum kapsul pelancar ASI, sudah. Tapi tak kunjung si ASI keluar. Akhirnya si bayi tetap mengkonsumsi sufor.

Hari ketujuh, waktunya saya kontrol. Sekalian bawa si bayi, untuk mendapatkan imunisasi. Usai saya diperiksa, giliran bayi yang diperiksa. Saya berharap beratnya sudah jadi 2,5. Tapi ternyata tidak. Si bayi malah turun, jadi 2,2. Huhu… sedih banget saya. Merasa bersalah banget, gara-gara ASI tak lancar, si bocah bukannya naik, malah turun 1 gram. Karena beratnya turun, bidan belum berani memberikan suntikan imunisasi dan meminta saya berkonsultasi ke dokter.

Dari klinik, kami langsung ke rumah sakit. Mendaftar untuk bertemu dokter spesialis anak yang direkomendasikan oleh bidan. Jadi, kami memang tak tahu dokter spesialis anak di Malang. Alhamdulillah dua anak pertama itu nggak pernah sakit berat, paling panas dan pilek aja. Nggak pernah dibawa ke dokter, cukup ditangani di rumah, dan kalau panasnya sudah diatas 3 hari, baru dibawa ke bidan. Setelah dibawa ke bidan, biasanya berangsur membaik dan lincah lagi.

Balik lagi ke dokter spesialis. Setelah menunggu sejam lebih, akhirnya kami bisa bertemu beliau. Saya sampaikan permasalahan dan kekhawatiran saya terhadap berat badan si bayi. Dokter lalu meminta saya membaringkan si bayi di ranjang dan membuka bajunya.

Usai memeriksa, dokter menasihati saya, agar jangan lagi memakaikan gurita. Pakai kaos dalam saja, beli yang kecil. Soal imunisasi, katanya nggak apa-apa bayinya diberi suntikan. Karena si bayi sudah cukup umur saat lahir.

Mulai tenanglah saya. Walau bayarnya ke dokter mahal, tapi kalau menenangkan pikiran nggak masalah. Jadi saya pun mulai mematuhi untuk tak mengenakan gurita pada si bayi, dan mulai konsentrasi untuk menaikkan berat badannya.

Usia 3 bulan, saat periksa ke bidan, berat badan si bayi masih juga di area kuning di kartu menuju sehat.

Usia 6 bulan, masih di area kuning juga. Huhu….

Baiklah usia 6 bulan, saya mulai kenalkan bubur bayi. Yang instan.

*Nggak terima pertanyaan kenapa nggak dibuatkan sendiri? kenapa bubur instan?

Tapi si bocah nggak begitu lahapnya makannya, ogah-ogahan. Harus telaten banget kalau menyuapi dia makan. Hingga suatu saat ART saya membuat bubur sumsum di rumahnya, lalu membawakan semangkok ke rumah. Dicobalah menyuapi si bayi dengan bubur itu. Eh, si bayi lahap makannya. Sejak itu, si bayi jadi sering kami masakkan bubur sumsum. Susu masih jalan terus.

Usia 8 bulan, berat badan si bayi mulai berada di area hijau di KMS. Alhamdulillah, lega rasanya. Si bayi juga mulai mau makan bervariasi, mulai lahap.

Usia 9 bulan, melihat perkembangan berat si bayi, saya dan suami memutuskan untuk mengganti susunya. Kenapa di ganti? Alasan pertama, Susunya mahal euy… Alasan kedua, si bayi sudah mau makan, jadi kami berasumsi nutrisinya sudah bisa di cover dari makanannya.

Baca juga : Bayi 10 Bulan Itu ….

Untuk proses perpindahan susunya juga tidak langsung kok. Oh iya, kami ganti ke SGM 6-12 bulan. Awalnya saya berikan selang seling minumnya antara preNAN dan SGM. Alhamdulillah tak ada masalah dengan perutnya. Saya yakin tak ada masalah, karena feces di bocah tidak mengalami perubahan. Tidak menjadi lebih encer ataupun menjadi lebih keras.

 

Setelah sekitar 2 minggu susunya selang seling, dan juga karena persediaan preNAN sudah habis, si bocah lanjut berpindah sepenuhnya mengkonsumsi SGM sampai sekarang.

Besok, 4 Oktober 2019, si bocah genap berusia 3 tahun. Berapa berat badannya? 22 kg. Tingginya juga proporsional. Anaknya lincah dan mulai sering bertanya banyak hal, sudah bisa memprotes pula bila ucapan dan perbuatan mamanya tidak sesuai.

Begitulah, upaya kami membesarkan si bayi berat badan lahir rendah. Ada masa galau, ada masa bersemangat. Ada kala pengen nangis, ada kalanya pengen ketawa kala menatap si bayi yang sedang tidur lelap. Teruslah tumbuh dan berkembang sesuai usiamu, Nak.

38 Comments

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis

%d bloggers like this: