Catatan Kecil Keluarga Nara

Abadikan lewat tulisan agar jadi kisah klasik di masa depan



Ati-ati Ya, Ma

Pagi ini ada yang berbeda saat aku mau berangkat kerja. Biasanya kalau aku mau berangkat, kedua anakku susah diajak salaman. Mereka akan merengek agar aku dirumah saja menemani mereka. Aku harus membujuk mereka terlebih dahulu, mengajak mereka jalan sampai gerbang kompleks perumahan, barulah mereka melepas aku untuk jalan sendiri menuju kantor.

Pagi ini pun si abang dan adiknya awalnya masih susah untuk diajak salaman sebagai tanda pamitan. Maka aku berinisiatif untuk salaman dulu dengan papanya. Dilanjut cium tangan, serta pipi kiri kanan. Eh si abang, yang semula ada dikamar,  langsung berlari ke arah kami yang berdiri di ruang tengah. Menarik-narik bajuku dan merengek “ayang abang, ma”. Maka kuulurkan tanganku, yang langsung disambut oleh tangan mungilnya. Diciumnya tanganku, lalu disodorkannya pipinya ke arahku, minta disayang.

Si adik, ikut-ikutan juga. Dengan tambahan minta dipeluk dan digendong. Berangkatlah aku ke kantor, diantar sampai halaman rumah oleh anak-anak. Si abang berulang kali bilang “ati-ati ya, ma”. Duh senangnya!

Semoga hari-hari ke depan, suasana pagi sebelum berangkat kerja akan selalu seperti ini. Tak ada rengekan, tangisan dan keributan kecil lagi dipagi hari.

***

Anak-anak itu peniru yang ulung dan mereka butuh contoh yang baik. Si abang sering mendengar aku mengatakan “hati-hati ya” setiap kali papanya mau bepergian. Dan sebaliknya, suami juga sering bilang “hati-hati” jika saya mau bepergian. Rupanya itu terekam dalam memori si abang. Lalu dia menirukannya, walau diucapkan dengan malu-malu.

   

Jadi inget sebuah puisi bagus karya Dorothy Law Nolte yang berjudul “Children Learn What They Live”

Jika anak banyak dicela, ia akan terbiasa menyalahkan

Jika anak banyak dimusuhi, ia belajar menjadi pemberontak

Jika anak hidup dalam ketakutan, ia selalu merasa cemas dalam hidupnya

Jika anak sering dikasihani, ia belajar meratapi nasibnya

Jika anak dibesarkan dalam olok-olok, ia akan menjadi seorang pemalu

Jika anak dikelilingi rasa iri, ia tak akan puas dengan apapun yang dimilikinya

Jika anak dibesarkan dalam pengertian, ia akan tumbuh menjadi penyabar

Jika anak senantiasa diberi dorongan, ia akan berkembang dengan percaya diri

Jika anak dipuji, ia akan terbiasa menghargai orang lain

Jika anak diterima dalam lingkungannya, ia akan belajar menyayangi

Jika anak tidak banyak dipersalahkan, ia akan senang menjadi diri sendiri

Jika anak dibesarkan dalam kejujuran, ia akan terbisa melihat kebenaran

Jika anak ditimang tanpa berat sebelah, ia akan besar dalam nilai keadilan

Jika anak dibesarkan dalam rasa aman, dia akan mengandalkan diri dan mempercayai orang lain

Jika anak tumbuh dalam keramahan, ia akan melihat bahwa dunia itu sungguh indah

***

Semoga saya tetap dapat memberikan contoh yang baik bagi anak-anak.

Si Kecil Gemar Menggoda Kakaknya

Nayla, 1 tahun 4 bulan kini usianya. Lagi senang-senangnya diajak jalan dan berlari. Suka cari-cari dan ambil sandal sendiri, lalu disodorkan padaku minta dipakaikan. Kadang pengen mencoba memakai sendiri, lalu teriak-teriak jika usahanya tak berhasil.

Nayla suka usil menggoda abangnya, yang usianya selisih 1 tahun. Kadang mengambil botol susu/mainan si abang lalu di dekapnya. Jika si abang hendak merebutnya kembali, maka dia segera berlari menuju arahku sambil tertawa-tawa. Berulangkali diteriaki marah oleh si abang, tapi tetap diulanginya lagi. Menunggu, mencari-cari kesempatan saat abangnya lengah perhatiannya terhadap botol susu/mainannya.

Jika si abang lagi tidur di kamar, maka Nayla akan mengetuk-ngetuk pintu kamar sambil manggil-manggil “Bang!” Mungkin dia kesepian, dan pengen ngajak abangnya main. Jika dibilangi si abang sedang bobok, dia menyingkir dari pintu. Tapi tak lama, pintu diketuk-ketuknya lagi.

Jika mendengar suara abangnya dari dalam kamar pertanda sudah bangun, maka Nayla akan ribut minta dibukakan pintu. Pintu terbuka, langsung dia lari masuk kamar lalu mencolek-colek abangnya sambil teriak-teriak seolah hendak bilang ‘ayo bangun abang, kita main’. Si abang yang baru bangun tidur, biasanya masih lesu dan pengen malas-malasan dulu. Alhasil, dia pasti marah dan tak jarang jadi menangis klo digangguin adiknya. Sering juga Si adik jadi sasaran pukulan tangan dan tendangan kakinya.

Mereka berdua kalau sudah bercanda, membuat saya sering senyum-senyum sendiri menyaksikannya. Kalau sudah ribut, bikin saya pengen ikut marah juga. Tapi bagaimanapun, saya coba menikmati saja membimbing dan membesarkan mereka.

Bosan Film Kartun

Sudah seminggu ini sulungku, 2 tahun 4 bulan, tak lagi mau melihat serial kartun yang pernah jadi favoritnya. Saat channel TV mampir memperlihatkan tayangan Upin Ipin, dia segera berteriak minta diganti. “Nggak mau pipin, Ma” katanya sebagai tanda saya harus segera mengganti channelnya. Saat ketemu Sponge Bob, dia juga nggak mau melihat “Nggak mau itu, ma”. Jadi mau lihat apa dong?

Masa sih anak segitu sudah bosan dengan tayangan kartun? Padahal kalau aku dengar cerita teman-temanku yang juga punya anak kecil, tak pernah ada cerita anak mereka bosan ama film kartun/animasi. Tapi kok si abang udah nggak mau lagi lihat upin ipin dan juga sponge bob.

Lihat The Owl dan Shaun the Sheep, dia masih mau. Jadi apa bener perkiraanku, bahwa dia bosan dengan kedua film itu.

Kalau bosan kartun, terus mau lihat apa dong? Masa mau diajak lihat sinetron yang jalan ceritanya makin nggak jelas dan banyak mengajarkan budaya hedonis. Aku aja nggak suka lihat sinetron.

Jadilah kuajak dia menikmati tayangan berita. Walau berita juga isinya nggak selalu positif.

Lha klo pas nggak ada tayangan berita? Ajak nonton DVD pembelajaran kesukaannya. Walau sudah hapal huruf, tapi dia tak bosan klo diajak nonton DVD mengenal huruf. Diselingi dengan DVD belajar mengenal angka. Jadilah hampir sepanjang hari putar DVD berulang-ulang

Mama aja vs Strika Mbak

Kali ini aku mau nulis tentang kepemilikan dan kebiasaan. Masih berdasarkan kasus yang terjadi di rumah.

Kasus 1 : Hari sabtu, karena libur jadi kegiatan memasak agak siang. Menjelang jam 7 si mbak datang. Kegiatan memasak tinggal satu lagi, yaitu menggoreng ikan. Ikan sudah dibumbui, wajan berisi minyak goreng sudah ditaruh diatas kompor. Tinggal nyalain kompor, nunggu minyak panas dan sreng sreng.

Si mbak berinisiatif menyalakan kompor dan hendak menggoreng ikan tersebut. Abang yang melihat mbaknya ke dapur dan menyalakan kompor langsung protes “mama aja” sambil mendorong-dorong saya untuk ke dapur. Maksudnya, si mbak nggak boleh menggoreng ikan. Mamanya, alias saya lah yang harus menggoreng ikan itu.

Kasus 2 : Setrika di rumah rusak. Karena memang umurnya sudah tua dan susah diperbaiki lagi, maka kami memutuskan untuk membeli setrika baru. Maka pergilah suami ke toko peralatan elektronik, abang diajak.

Sesampai di rumah, si abang langsung cariin mbaknya, menyeret bungkusan setrika dan dikasihkan padanya. “ini mbak”. Waktu saya minta setrika itu, untuk melihat modelnya, maklumlah barang baru, si abang melarang “ini trika mbak, bukan punya mama”

***

Dari kedua kasus diatas, saya berkesimpulan bahwa si abang selama ini mengamati kebiasaan yang kami lakukan di rumah. Si abang terbiasa melihat saya lah yang memasak. Sehingga jika ada orang lain yang mengerjakan pekerjaan itu dia akan memprotes. Tak hanya si mbak yang di protes, bahkan kala suami membantu saya di dapur pun dia akan protes. Melonjak-lonjak menyeret saya untuk ke dapur, mendorong-dorong papanya untuk meninggalkan dapur. Tapi kalau saya sedang tidak ada di rumah dan suami memasak di dapur, si abang santai aja saja. Membiarkan papanya memasak dengan tenang tanpa gangguan.

Si abang tak pernah melihat saya setrika. Saya memang memilih setrika di malam hari, kala mereka sudah tidur. Saya khawatir kalau saya setrika saat mereka terjaga, malah akan jadi kacau. Mereka pasti akan usil untuk ikut-ikutan meniru setrika, atau mengaduk-aduk tumpukan baju di keranjang.

Anehnya, mereka akan duduk manis kala si mbak setrika di siang hari. Mereka akan asyik main berdua, atau menonton DVD.

Karena si abang tak pernah melihat saya setrika dan sebaliknya sering melihat si mbak menyetrika disiang hari, maka dia beranggapan setrika itu punya si mbak.

***

Hasil pengamatan saya, si abang sudah belajar tentang tugas serta kepemilikan. Jika saya ada, maka sayalah yang memasak. Jika saya tak ada, maka papanya dan juga si mbak boleh menggantikan tugas saya.

Barang yang sering dilihatnya saya gunakan, maka itu adalah punya saya. Barang yang sering dilihatnya digunakan si mbak, maka itu adalah milik si mbak. Walau dalam kenyataannya, apa yang sering kita gunakan belum tentu adalah kepunyaan kita.

 

Menyimak Obrolan Para PRT

Pagi ini, saat lagi beres-beres rumah, si mbak nanya apa isi tumpukan kardus yang ada disudut kamar. Kujawab itu adalah baju anak-anak yang sudah nggak muat lagi dibadan mereka. Lalu kulanjutkan, barangkali ada tetangganya yang punya anak kecil dan mau baju-baju bekas pakai itu, ya dibawa aja dikasihkan. Si mbak malah bilang, “emang ibu nggak mau hamil lagi”

Saya terkekeh, aduh mbak, anak dua aja belum bisa maksimal ngasuh mereka, kok disuruh nambah lagi. Klo saya nggak kerja, jadi ibu rumah tangga aja, saya sih mau aja punya anak lagi.

Si mbak lalu bercerita kalau tetangga depan rumah saya pengen punya anak 4. Dia tahu dari cerita PRT yang kerja di tetangga itu, kebetulan rumah mereka berdekatan. Dan sekarang tetangga saya itu lagi hamil anak ketiga.

Saat si tetangga cerita ke PRT nya bahwa dia hamil lagi, langsung dijawab ama PRT nya “aduh bu, dua anak aja belum bisa ngasuh kok mau tambah lagi, saya juga yang repot nanti”

Saya kaget dan ketawa waktu si mbak cerita, masak sih PRT depan rumah berani bilang gitu ama majikannya. Saya kenal baik dengan PRT depan rumah itu, bahkan dia juga yang dulu menghubungkan saya dengan si mbak, hingga akhirnya si mbak kerja ditempat saya. Si mbak mengiyakan, lalu dia menambahkan beberapa cerita lagi, gimana PRT tetangga itu berani sering membantah apa yang dikatakan majikannya.

Tadinya saya heran juga kok berani PRT membantah apa yang dikatakan majikannya. Menyimak cerita si mbak, saya juga tak bisa menyalahkan PRT tetangga itu. Karena dia memang punya alasan yang kuat untuk misalnya menjawab dengan nada yang agak ketus. Misal untuk kasus berikut ini. PRT itu pagi-pagi lagi ada di rumahnya, tiba-tiba si majikan telpon, nanyaian dimana dasi anak pertamanya, karena mau dipakai si anak ke sekolah. Si PRT menjawab “aduh urusan dasi aja kok nelpon, mbok ya dicari sendiri”. Saya maklum, pagi-pagi itu masa-masa repot, masa urusan dasi aja, si PRT harus segera ke rumah majikannya itu untuk bantuin cari dasi.

Dari cerita si mbak, makin memperkuat kemauan saya, sedekat-dekatnya hubungan saya dengan si mbak, janganlah menceritakan masalah pribadi pada dia. Ngobrol cukup di masalah kerjaan dan perkembangan anak-anak saja. Kali ini, mungkin dia akan diam saja jaga rahasia kalau misalnya saya curhat. Tapi kali lain siapa tahu? Selain itu juga agar tak terlalu tergantung pada si mbak. Pekerjaan rumah yang mampu dikerjakan sendiri, tak usahlah minta bantuan si mbak. Ke anak-anak saya, walau masih kecil, juga saya ajrkan untuk mengambil sendiri mainan yang mereka inginkan di tempatnya, selesai bermain saya ajak mereka membereskan. Jangan mama atau si mbak terus yang beresin sementara mereka kerjaannya berantakin aja.

Dari situ juga saya kembali instropeksi diri saya sendiri, mengingatkan kembali untuk selalu ‘nguwongke’ si mbak. Menjaga perasaannya agar tak terluka dengan perkataan maupun sikap saya. Semoga si mbak, yang baru bekerja 4 bulan ditempatku, tetap betah bekerja di rumah.

Mengajak Anak ke Kantor

Saya mempekerjakan PRT hanya disiang hari saja. Pagi dia datang, sore setelah saya nyampe rumah, dia pulang. Saya lakukan ini karena saya tak ingin terlalu tergantung dengan PRT dan anak-anak terlalu dekat dengan dia. Saya pekerjakan dia khusus untuk menjaga anak-anak disaat saya tak berada di rumah. Kerepotan selalu terjadi kala mendadak si mbak nggak bisa masuk, entah karena sakit atau ada keperluan lain.

Hari ini, si mbak nggak masuk. Tumben tak ada kabar, biasanya klo nggak masuk, dia pasti sms kasih kabar. Padahal saya ada jadwal ngajar pagi hari. Jadilah, saya buat kesepakatan dengan suami untuk gantian jaga di rumah. Pagi saya ke kantor dan suami jaga anak-anak di rumah. Jam istirahat siang saya pulang, sekalian ijin nggak balik ke kantor lagi, sementara suami gantian meninggalkan rumah.

(more…)

Memetik Hasil Dari Pelajaran Berbagi

Berhubung memiliki 2 anak yang jarak usianya hanya satu tahun, jika membeli sesuatu pasti saya beli dua buah. Satu untuk si abang dan satu untuk adeknya. Biasanya saya bilang “ini untuk abang, ini untuk dd” sambil menyerahkan barang/makanan mereka. Rupanya kebiasaan mengucapkan kalimat itu, membawa dampak yang positif.

Biasanya saya ajak abang untuk ikut belanja. Maunya sih ajak keduanya, tapi repot bawanya, maklumlah pengguna angkutan umum. Kadang saat belanja sekalian saya belikan biscuit untuk camilan mereka, tentu saja belinya dua. Dan pada si abang saya bilang “satu buat babang, satu buat dd ya” dan si abang akan menganggukkan kepalanya.

Sesampai di rumah, belum sampai membuka pintu, biasanya abang akan teriak-teriak memanggil dd nya. Si dd pun akan balas berteriak kegirangan melihat mama dan abangnya. Selanjutnya di mulailah acara bongkar-bongkar barang belanjaan. Begitu menemukan biscuit yang saya belikan tadi, sia abang segera mengambil keduanya. Lalu disodorkan satu ke arah dd nya, sambil bilang “ni dek”. Rupanya dia masih ingat bahwa saya membelikan satu satu untuk mereka.

Kemarin sore saya ajak si abang ke took di kompleks rumah. Membeli obat untuk papanya. Dd kebetulan lagi tidur. Obat sudah di dapat, uang masih tersisa 500 rupiah. Saya minta choki-choki aja buat si abang biar seneng. Saat menerima satu choki-choki, dia lama menatap saya. Saya masih nggak ngeh kenapa dia menatap saya lama. Saya ajak dia berjalan pulang, tapi dia masih diam saja tak mau bergerak. Lalu terucap dari mulut mungilnya “cuci cuci adek mana ma?”

Glek. Rupanya dia menatap saya tadi menunggu bungkusan kedua, jatah buat adeknya. Lalu saya bilang kalau uangnya nggak cukup buat beli 2, lagian dd kan sudah tidur. Satu aja nanti sampai rumah dibagi dua sama dd. Barulah dia mau diajak pulang.

Alhamdulillah, si abang telah memiliki kebiasaan baik MAU BERBAGI dengan adiknya. Semoga kebiasaan baik ini akan tetap melekat pada dirinya hingga dewasa kelak.

Peristiwa sore itu semakin menyadarkan saya, bahwa anak-anak adalah penyerap dan peniru ulung. Sehingga saya sebagai orang tuanya harus selalu berhati-hati dengan ucapan maupun perbuatan saya di hadapan mereka.

Menikmati Kegiatan Memasak Bersama Anak-anak

Memasak, ini kegiatan wajib yang aku lakukan tiap pagi. Berawal dari keinginan memberikan asupan makanan sehat bagi keluargaku. Keinginan untuk berhemat juga tentunya. Tak apalah repot sedikit, mengorbankan diri untuk bangun lebih pagi. Saat anak-anak masih tidur, kegiatan memasak dapat dilakukan dengan tenang tanpa gangguan.

Namun ada kalanya aku bangun bersamaan dengan anak-anak, kadang juga mereka bangun lebih dulu lalu membangunkan aku. Jika demikian, maka kegiatan memasak bisa sedikit tertunda, tapi tetap dilaksanakan. Adakalanya mereka mau duduk manis melihat tayangan kartun di TV, atau asyik bermain berdua. Namun lebih sering mereka membuntuti aku ke dapur. Si abang bertanya ini itu, si adik ribut minta digendong ingin melihat apa saja yang mamanya lakukan diatas meja dapur

     

Mau tak mau, walau sering harus diiringi teriakan peringatan, jadilah kulibatkan mereka dalam acara memasak. Si abang paling suka acara ngulek bumbu. Sementara si adek suka nguntit bawang putih lalu dimasukkan ke mulutnya.

Waktu untuk memasak tentu saja jadi lebih lama. Aku harus menunggu si abang bosan lalu menyerahkan ulekannya padaku sambil bilang “mama aja”. Maklumlah, punya ulekan juga cuma satu. Lalu dia akan mengamati aku mengulek bumbu sambil bertanya “bumbu apa ini ma?”. Setelah bumbu halus, ulekan kembali dia minta “babang aja” katanya.

Tentunya tak masalah jika waktuku longgar. Namun akan jadi masalah jika waktunya mepet. Sudah menjelang jam 6, sementara aku belum mandi. Padahal kantor masuk jam 7. Emosi jadinya, apalagi kalau mereka susah dibilangi. Maunya nempel terus. Jadilah adik digendong dan siabang berdiri disamping/belakangku sambil memegangi bajuku. Tangan sibuk beraksi, mengaduk sayur, menggoreng ikan.

Aku berusaha menikmati kegiatan ini. Sekaligs memberikan pelajaran juga bagi mereka sedari dini. Pelajaran tentang pentingnya kebersihan bahan-bahan makanan. Pelajaran mengenai pentingnya kebersihan peralatan makan dan juga lingkungan dapur. Pelajaran bagaimana membuat dan menyajikan makanan yang sehat. Pelajaran berhemat dengan menghindari jajan diluar, toh makanan sudah tersedia di rumah. Saat ini mereka belum tahu semua itu, namun nanti lama-kelamaan mereka pasti akan mengerti

Keluargaku, Sekolahku

Keluarga merupakan tempat belajar pertama dan utama bagi seorang anak. Anak pertama kali kenal dengan ibu bapaknya, lalu dengan anggota keluarga lainnya. Anak meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang didekatnya. Mereka menyerap apa yang dilihat, didengar, dialami sehari-hari.

Keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak-anak. Dalam keluarga seorang anak belajar sopan santun, belajar cara makan, belajar mencuci, belajar tentang kebersihan, belajar bertoleransi, belajar berkasih sayang, belajar berbagi, belajar membaca, belajar berhitung. Dalam keluarga pula seorang anak belajar mencaci, belajar memukul, belajar melampiaskan kekesalannya dengan menyalahkan orang lain, belajar menipu, belajar berbohong. Semua nilai positif dan negatif itu dipelajarinya terutama dari kedua orang tuanya. Sehingga jika orang tua berharap anak-anaknya mempunyai perilaku yang baik, maka dia juga harus memberikan contoh yang baik pula.

Keluargaku, sekolahku. Dalam keluarga kecilku ini aku belajar. Belajar untuk menjadi ibu yang baik untuk kedua anakku. Belajar untuk menjadi istri yang baik bagi suamiku. Tak mudah pastinya bagiku jika menengok bagaimana latar belakang keluargaku. Namun aku tetap berusaha. Walau kadang harus ada deraian air mata. Walau kadang ada amarah dan juga sesal. Amarah adalah sikap bawaan dari keluargaku, yang selalu aku coba redam. Sesal sering muncul jika ku tak sanggup menahan amarah dan menunjukkan perilaku tak baik di depan anak-anak yang membuat mereka terdiam.

Keluargaku, sekolahku. Disinilah aku coba merangkai kata. Mengisahkan apa saja yang terjadi dalam keluargaku. Kisah-kisah yang semoga dapat diambil hikmahnya. Bagi diriku sendiri dan bagi siapapun yang membacanya. Kisah-kisah yang dapat aku jadikan bahan refleksi kembali dimasa-masa yang akan datang. Kisah-kisah yang akan dapat dinikmati oleh kedua anakku nanti kala mereka telah lancar membaca. Hingga mereka dapat berkata “lewat tulisan ini, aku jadi tahu bagaimana perkembanganku dalam asuhan orang tuaku”