Catatan Kecil Keluarga Nara

Abadikan lewat tulisan agar jadi kisah klasik di masa depan



Aku Benci Kamu Hari Ini

“Besok pagi aku mau sarapan ditempatmu, masakanmu”

What!? Kamu kan tahu kalau aku tak bisa masak. Masak air ama mie sih aku ahlinya. Tapi masa, aku hidangkan mie goreng sama kopi aja buatmu besok. Nggak asyik banget.

“Tak ada tapi. Aku nggak mau tahu gimana caramu. Pokoknya aku ingin masakanmu. Aku kesitu besok pagi, jam 7”

Sambungan telpon kau putuskan. Sebelum aku sempat menolak. Hah, ini sih namanya pemaksaan.

Sepanjang malam aku tak bisa tidur. Aku browsing resep-resep masakan untuk menu sarapan. Soto, kayaknya pas banget dimusim hujan kayak gini. Pagi yang lembab jadi terasa hangat. Aku dan kamu biasa menikmati semangkok soto berdua di warung Pak Man yang tak jauh dari rumah. Aku pesan ke Pak Man aja kali ya? Tapi pasti ketahuan karena kamu sudah hapal betul rasa soto disana. Masak sendiri? Sudah pasti aku tak bisa. Lagian udah larut gini dimana mau cari bahan-bahannya?

Pagi-pagi aku sudah berkeliaran dipasar. Kegiatan yang tidak biasanya aku lakukan. Biasanya sepagi ini aku masih bermalas-malasan ditempat tidur.  Tapi hari ini memang beda. Hari ini aku disini, di pasar yang penuh sesak. Riuh pedagang menawarkan dagangan.

Memasak dengan cinta. Masukkan bahan-bahan, kasih garam secukupnya. Secukupnya? secukupnya itu seberapa, sesendok penuh? sejung sendok? sendok teh atau sendok makan? Ah, asal aja lah. Peduli amat mau keasinan. Yang penting aku memasaknya dengan cinta. Dapur jadi berantakan. Gini deh klo amatiran memasak.

Sudah jam 7 lewat, tapi kamu belum datang. Tapi nggak apa-apa. Masakanku juga belum matang. Aku malah berharap kau terlambat datang. Agar aku masih sempat merapikan kekacauan di dapur.

Jam 8 lewat, kamu tak juga datang. Tak biasanya kamu telat gini. Kutengok ponselku dikamar, barangkali ada pesan darimu.

Tak ada pesan. Tak ada telpon.

Kucoba menghubungimu. Nomormu nggak aktif.

Ini sudah jam 9, dimana kamu? Aku sudah susah payah berjuang untuk menyenangkan hatimu, tapi kamu malah menghilang tak ada kabar.

Sepanjang hari ini aku dilanda gelisah. Tak ada kabar. HP tidak aktif. Aku capek. Aku khawatir. Aku jengkel. Aku resah. Aku benci kamu!

 

 

 

Sepucuk Surat (Bukan) Dariku

Aku mencintaimu? Sudah pasti. Kau mencintaiku? Entahlah. Tak pernah ada kata cinta terucap dari mulutmu untukku. Walau kata sayang dan rindu sering terucap, namun aku masih tak tahu apakah kau mencintaiku.

Kau selalu berikan perhatian lebih padaku. Kau selalu ceritakan apapun kegiatanmu padaku. Sedang senang ataupun susah, kau selalu bercerita. Apakah aku sekedar tempat curhat bagimu? Tak apalah, aku senang kok. Aku sudah cukup berbahagia kau mau berbagi denganku. Aku sudah cukup bahagia bisa melihat senyummu mengembang.

“Abang!” Teriakanmu menghentikan langkahku. Aku berbalik dan mendapatimu mempercepat langkah menuju ke arahku.

“Akhirnya kudapatkan ini!” kau berkata girang sambil melambaikan sebuah amplop putih di depan mukaku. Amplop? Ada amplop artinya ada surat. Surat cintakah? dari siapa hingga dapat membuatmu girang begitu. Kau bilang “akhirnya” tadi? Jadi kau sudah lama menantikan surat itu? Siapa lelaki yang beruntung itu, kau tunggu tulisan cintanya demikian lama.

Badanku lemas. Ada orang yang telah mendahuluiku. Dan kau begitu girangnya. Ah, ingin rasanya aku melangkah meninggalkanmu. Aku tak ingin kau lihat muka sedihku. Tapi, tidak. Aku memilih tetap disini. Kau memanggilku, artinya kau membutuhkanku.

“Ke kantin yuk” kau segera menggamit tanganku, sebelum aku menyatakan persetujuanku. Kau terus bicara selagi kita berjalan. Aku sudah tak dapat lagi menyimak. Kuusahakan tersenyum kala kau menoleh ke arahku, walau aku nggak ngerti apa yang kau ucapkan.

Kita duduk berhadapan. Sambil menunggu pesanan, kau buka amplop yang masih ada dalam genggamanmu. Kau baca lembaran kertas didalamnya, sambil sesekali tersenyum. Ah, tahukah kau, senyummu itu membuat dadaku sakit. Kenapa aku harus ada dalam situasi seperti ini?

Kau sodorkan lembaran itu padaku. Kau ingin aku membacanya? Kau ingin aku mati dibakar cemburu? TIDAK. Aku menggeleng.

Kau masih juga menyodorkan kertas itu. Menganggukkan kepala. Kau benar-benar ingin aku membacanya.

Kuhela nafas panjang. Aku harus kuat. Aku lelaki yang kuat. Pelan-pelan kuulurkan tanganku. Mengambil kertas dari tanganmu. Kau tersenyum. Sekali lagi aku menghela nafas, kupejamkan mataku sebelum mengalihkan pandangan pada selembar kertas itu.

Kepada Yth

Andini Susilowati

Selamat, anda terpilih sebagai ………..

Jadilah Milikku, Mau?

Menulis surat cinta? Huh, makasih dah! Aku tuh bukan tipe lelaki yang bisa nggombal. Merangkai kata-kata indah. Bikin rayuan dengan kalimat muter-muter padahal intinya cuma mau bilang sayang. Menyebut segala macam nama bunga hanya untuk bilang cantik.

Aku terbiasa ngomong langsung, apa adanya. Kalau suka, kubilang suka. Kalau tak mau, aku bilang tak mau. Kalau cantik, kubilang cantik. Kalau memang muka jerawatan, kubilang kasih obat.

Aku bisa ngomong ceplas-ceplos ke siapapun. Bahkan pada orang yang baru ku kenal sekalipun. Tanpa malu, tanpa rikuh, tanpa perasaan tak enak. Tapi tidak kalau dihadapan dia.

Dia, gadis itu. Tinggi semampai. Hitam manis kulitnya. Jika tersenyum tampak lekukan menghiasi sudut bibirnya, lesung pipit yang menawan. Dia, gadis yang berhasil membuatku mati kutu sejak pertama kami bertemu. Dia, yang membuat lidahku jadi kelu. Dia, yang selalu membuatku salah tingkah.

Mungkinkah aku jatuh cinta padanya? Dadaku selalu berdebar jika ada yang menyebut namanya. Aku sering mencuri-curi pandang padanya. Aku selalu berusaha duduk di bangku di samping dia duduk tiap kami ada kuliah bersama. Aku yang selalu ingin menyapanya, namun tak ada kata yang mampu keluar dari tenggorokanku.

Aku mati kutu. Aku ingin selalu dekat dia. Aku selalu ingin tahu apa saja yang dilakukannya. Aku yang ingin selalu tahu apa saja yang dibincangkan dengan teman-temannya.

Aku tak mampu berkata-kata dihadapannya. Jadi aku harus menulis saja? Menuliskan kalau aku suka dia. Menuliskan kalau aku ingin berbincang banyak dengannya, tapi lidahku kelu. Menuliskan bahwa aku selalu berharap dia hadir dalam mimpi-mimpiku.

Ouh, ternyata jatuh cinta itu repot. Ternyata jatuh cinta itu hanya mampu membuatku diam-diam memandanginya tanpa dapat berucap kata. Ternyata jatuh cinta itu menyiksa. Dan aku sudah membuat keptusan untuk mengakhirinya. Jika tak mampu berucap, maka aku harus menuliskannya.

Teruntuk, Dinda

JADILAH MILIKKU, MAU?

Ttd

Arya

Dag Dig Dug

“Sebentar lagi aku sampai” membaca tulisan dilayar hp membuat dadaku berdegup makin kencang. Tanganpun bergetar. Sebentar lagi dia sampai. Sebentar lagi kami akan bertemu. Bergegas aku ganti baju, mematut diri didepan cermin. Eh, kenapa aku jadi salah tingkah begini.

Dag dig dug.

Menghela nafas panjang untuk menenangkan diri sebelum melangkah meninggalkan kamar kostku. Aku berjalan menuju terminal, sambil bersenandung, untuk mengusir rasa gelisah. Mengusir rasa penasaran. Mengusir grogi karena akan bertemu dengannya.

Dag dig dug.

Dua tahun menjalin hubungan tanpa pernah bertemu. Saling berbincang, bercanda, melepas rindu hanya dari balik layar. Layar monitor dan layar hp. Dan kini kami akan bertemu untuk pertama kalinya.

Dag dig dug.

Detak jantung semakin cepat berpacu kala ada bis baru masuk terminal. Aku berpegangan pada tiang penyangga atap seng peneduh tempat penurunan penumpang. Mengamati sampai bis berhenti menurunkan penumpang. Pintu bis terbuka, aku makin erat berpegangan. Menunggu sosoknya turun dari bis. Satu persatu penumpang turun. Tapi dia tak ada. Ah, mungkin bis setelah ini. Tempo detak jantungku kembali menurun.

Dag dig dug.

Sudah dua jam aku berdiri disini. Sudah puluhan bis datang. Tak ada satupun yang membawa dirinya. Dia bilang sebentar lagi sampai. Dua jam itu sebentar? Ouh, dua jam itu sangat lama. Dua jam jantungku harus bekerja lebih keras. Dua jam aku gemetaran. Dua jam aku salah tingkah. Dua jam yang sangat menyiksa.

Dag dig dug.

Kutimang-timang hp dalam genggamanku. Kuputuskan untuk menghubunginya.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif……….” suara lembut merambat masuk rongga telingaku.

Dag dig dug.

Cukup sudah. Kulangkahkan kakiku meninggalkan terminal. Apakah aku telah dibohongi? Teganya dia mempermainkan aku. Jadi dua tahun ini sia-sia aku menunggunya. Dunia maya. Hahahaha….. aku telah menjadi korbanmu. Dua jam degup jantungku lebih kencang berpacu. Dua jam aku seperti orang linglung. Dan dia, yang kini entah ada dimana, sedang tertawa puas. Mentertawakan kebodohanku.

Melangkah gontai kembali ke kost. Tak ada lagi senandung riang. Tinggal dada yang sesak. Air mata yang sekuat tenaga aku tahan supaya tak tumpah.

Memasuki rumah, kupercepat langkahku. Tak tahan ingin segera merebahkan diri dipembaringan, menumpahkan tangis. Dengan menunduk ku lewati ruang tamu, sekilas kulihat ada yang sedang duduk disana. Tapi tak  aku malas berbasa basi menyapa. Pura-pura tak melihat saja.

“Dik!”

Satu kata itu cukup membuat langkahku terhenti. Panggilan itu untukku? Sepertinya aku kenal suara itu. Apakah mungkin…

Kubalikkan badanku. Kulihat dia tersenyum, merentangkan tangannya seolah mengundangku untuk segera menghambur dalam pelukannya.

Dag dig dug.

 

Halo, Siapa Namamu?

Deringan hp membuyarkan keasyikanku menekuni novel dihadapanku. Nomor tak dikenal. Biasanya aku malas mengangkat telpon dari nomor-nomor asing, tapi kali ini entah kenapa aku ingin menjawab telponnya.

Hening beberapa saat setelah kutekan tombol hijau di keypad hpku. Tak ada suara, akupun tak berinisiatif untuk mengucap halo, karena bukan aku yang hendak memulai pembicaraan.

“Halo, siapa ini?” suara seorang wanita menyapa dari seberang sana.

“Lho, tadi anda mau telpon siapa?” kujadi heran, dia yang telpon tapi kok masih nanya siapa aku.

“Namamu siapa?” kembali suara diseberang menjawab.

“Mbak, baiknya anda perkenalkan diri dulu. Mbak yang menghubungi saya dan saya tak merasa kenal nomor dan juga suara mbak” aku masih mencoba bersikap ramah.

Kembali hening.

“Saya istrinya Bram” suara diseberang terdengar penuh ragu mengucapkan kalimat itu.

Istri Bram? Bram yang itu?

Bram, lelaki di masa laluku. Yang menghilang tanpa memberi kabar sedari tiga tahun yang lalu. Membawa serta harapan-harapan indahku. Membuatku terpuruk, meremukkan sekeping hatiku. Dan kini, baru saja aku menghentikan pencarianku, baru saja aku membunuh harapanku untuk dapat menemukannya lagi, ada seorang wanita yang mengaku istrinya menghubungiku.

Dengan menghela nafas kusebutkan namaku “Icha”

“Alhamdulillah” suara bernada lega dari wanita diseberang sana. “Ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu, titipan dari Bram. Kapan kita bisa ketemu”

Sesuatu? Titipan dari Bram? Apa sebenarnya maksud wanita ini.

“Aku tak mau lagi bertemu dengannya” akhirnya aku dapat mengucapkan kalimat ini. Selama tiga tahun aku berharap bertemu. Tiga tahun malam-malamku sering diisi dengan tangis dan ratapan. Dan kini,  saat aku mulai bangkit dari keterpurukan, dia ingin bertemu?

“Bukan Bram, aku yang ingin bertemu denganmu”

Dia ingin bertemu denganku berdua saja? Untuk apa? Mau mengorek-ngorek keterangan dariku? Mau memaksaku membuka lagi segala kenanganku selama bersama Bram?

“Bram sudah tenang dialam sana. Seminggu yang lalu. Kita harus bertemu. Aku harus menyampaikan wasiatnya padamu”

“Apa?!”

 

Uang Jajan untuk Anak Sekolah, Wajibkah?

Pagi ini, di timeline twitter seorang teman menulis telah melalaikan suatu tugas yang seharusnya dilakukan untuk mengawali hari ini, dan karena kelalaian itu dapat berakibat fatal. Jadi penasaran tugas apakah itu? Tapi setelah tahu jawabannya, kok malah merasa gimana gitu. Tugas yang dilalaikan itu adalah “memberi uang saku/uang jajan pada anaknya yang masih duduk di bangku SD”.  Si teman itu lalu meminta pada adiknya (paman si anak) buat nyusul ke sekolah, mengantarkan uang saku itu. Sebegitu pentingkah uang saku itu sampai harus disusulkan ke sekolah?

Tak hanya temanku itu, dilingkungan tempat tinggalku pun banyak ibu-ibu yang selalu memberikan uang jajan untuk anaknya yang mau berangkat sekolah setiap pagi. Pagi mau sekolah dikasih uang jajan, sore mau ngaji/les dikasih uang jajan lagi. Dalam sehari, pengeluaran uang jajan aja bisa berkisar 5000 sampai 10.000 ribu rupiah. Itu baru untuk satu anak, kalau anak lebih dari satu, pastinya nominalnya akan lebih besar lagi.

Alasan ibu-ibu tetanggaku itu paling banyak adalah  “kasihan anaknya kalau cuma bengong saja, kepingin lihat teman-temannya makan jajanan”. Alasan yang masuk akal memang. Apalagi di depan gerbang sekolah, pasti banyak banget penjual jajanan di jam bubar maupun istirahat sekolah. Belum lagi jajanan yang ada dikantin sekolah. Tapi kan tidak semua jajanan itu sehat dan baik buat anak-anak. Sudah banyak di ulas di program berita di TV, banyak jajanan anak-anak itu yang mengandung pengawet, pewarna dan bahan-bahan yang berbahaya bagi kesehatan.

Kebiasaan memberi uang jajan ini juga membawa akibat yang tidak baik yang akhirnya menyusahkan ortu juga. Pernah kejadian, anak tetangga nggak mau sekolah karena nggak dikasih uang jajan. Ortunya yang kebingungan, penghasilan pas-pasan. Akhirnya terpaksa ngutang ke tetangga, demi uang jajan! Parah banget kan kalau sampai begini.

Menyalahkan para ortu yang bersikap seperti itu? Siapalah aku ini sehingga berhak menyalahkan mereka?Aku tak bermaksud menyalahkan sikap para ortu yang selalu menunjukkan kasih sayang pada anak-anaknya dengan memberikan uang jajan. Aku hanya mengamati dan mengambil pelajaran dari kasus ini.

Bagi aku sendiri, aku lebih suka memberi bekal makanan/camilan buat anak-anakku dibanding memberikan uang jajan. Makanan/camilan yang aku olah sendiri, atau aku beli sendiri. Sehingga dapat meminimalisir adanya zat-zat yang membahayakan kesehatan. Tentunya ke anak juga harus diberikan pengertian kenapa mereka tidak dikasih uang jajan.

‘Uang jajan’ dikasih, tapi bukan buat jajan sembarangan. Kasih celengan satu-satu, uang jajannya di tabung. Ntar kalau dah banyak bisa buat beli sesuatu yang mereka inginkan. Entah mainan, baju, sepatu, buku, atau bahkan sepeda.

Pastinya tidak mudah kan memberi pengertian pada anak seperti ini. Apalagi kalau semua teman-temannya bawa uang jajan. Sesekali kepingin itu pasti, namanya juga anak-anak. Kita yang orang dewasa aja masih sering kepingin terhadap sesuatu yang dimiliki/dilakukan orang-orang disekeliling kita. Makanya harus dibiasakan sedari kecil.

Sedari sekarang, aku nggak pernah ngajari anak-anak untuk jajan ataupun makan di luar. Setiap hari aku sediakan makanan yang cukup di rumah, masak sendiri. Sekalian belajar masak dan coba-coba resep baru. Ke toko, pasar bahkan supermarket aku sering ngajak anak-anak. Tapi mereka tak pernah minta jajan, walau dilewatkan deretan rak yang menjual berbagai macam biskuit dan permen. Paling mereka teriak menyebut merk biskuit/permen itu karena sering lihat iklannya di TV. Saat ditawari “abang mau?”, maka si abang akan menggelengkan kepala.

Dibutuhkan konsistensi juga dari orang tua. Karena sekali aku lepas, memborong jajanan dan mereka lihat, maka lain kali pasti mereka akan minta. Bukan berarti aku nggak pernah kasih jajanan juga lho. Kadang-kadang, aku belikan juga biskuit bahkan es krim. Tapi aku yang memilihkan.

Semoga sampai besar, mereka terhindar dari kebiasaan jajan makanan yang tidak baik untuk kesehatan mereka, dan terbiasa dengan masakan rumah

Ati-ati Ya, Ma

Pagi ini ada yang berbeda saat aku mau berangkat kerja. Biasanya kalau aku mau berangkat, kedua anakku susah diajak salaman. Mereka akan merengek agar aku dirumah saja menemani mereka. Aku harus membujuk mereka terlebih dahulu, mengajak mereka jalan sampai gerbang kompleks perumahan, barulah mereka melepas aku untuk jalan sendiri menuju kantor.

Pagi ini pun si abang dan adiknya awalnya masih susah untuk diajak salaman sebagai tanda pamitan. Maka aku berinisiatif untuk salaman dulu dengan papanya. Dilanjut cium tangan, serta pipi kiri kanan. Eh si abang, yang semula ada dikamar,  langsung berlari ke arah kami yang berdiri di ruang tengah. Menarik-narik bajuku dan merengek “ayang abang, ma”. Maka kuulurkan tanganku, yang langsung disambut oleh tangan mungilnya. Diciumnya tanganku, lalu disodorkannya pipinya ke arahku, minta disayang.

Si adik, ikut-ikutan juga. Dengan tambahan minta dipeluk dan digendong. Berangkatlah aku ke kantor, diantar sampai halaman rumah oleh anak-anak. Si abang berulang kali bilang “ati-ati ya, ma”. Duh senangnya!

Semoga hari-hari ke depan, suasana pagi sebelum berangkat kerja akan selalu seperti ini. Tak ada rengekan, tangisan dan keributan kecil lagi dipagi hari.

***

Anak-anak itu peniru yang ulung dan mereka butuh contoh yang baik. Si abang sering mendengar aku mengatakan “hati-hati ya” setiap kali papanya mau bepergian. Dan sebaliknya, suami juga sering bilang “hati-hati” jika saya mau bepergian. Rupanya itu terekam dalam memori si abang. Lalu dia menirukannya, walau diucapkan dengan malu-malu.

   

Jadi inget sebuah puisi bagus karya Dorothy Law Nolte yang berjudul “Children Learn What They Live”

Jika anak banyak dicela, ia akan terbiasa menyalahkan

Jika anak banyak dimusuhi, ia belajar menjadi pemberontak

Jika anak hidup dalam ketakutan, ia selalu merasa cemas dalam hidupnya

Jika anak sering dikasihani, ia belajar meratapi nasibnya

Jika anak dibesarkan dalam olok-olok, ia akan menjadi seorang pemalu

Jika anak dikelilingi rasa iri, ia tak akan puas dengan apapun yang dimilikinya

Jika anak dibesarkan dalam pengertian, ia akan tumbuh menjadi penyabar

Jika anak senantiasa diberi dorongan, ia akan berkembang dengan percaya diri

Jika anak dipuji, ia akan terbiasa menghargai orang lain

Jika anak diterima dalam lingkungannya, ia akan belajar menyayangi

Jika anak tidak banyak dipersalahkan, ia akan senang menjadi diri sendiri

Jika anak dibesarkan dalam kejujuran, ia akan terbisa melihat kebenaran

Jika anak ditimang tanpa berat sebelah, ia akan besar dalam nilai keadilan

Jika anak dibesarkan dalam rasa aman, dia akan mengandalkan diri dan mempercayai orang lain

Jika anak tumbuh dalam keramahan, ia akan melihat bahwa dunia itu sungguh indah

***

Semoga saya tetap dapat memberikan contoh yang baik bagi anak-anak.

Si Kecil Gemar Menggoda Kakaknya

Nayla, 1 tahun 4 bulan kini usianya. Lagi senang-senangnya diajak jalan dan berlari. Suka cari-cari dan ambil sandal sendiri, lalu disodorkan padaku minta dipakaikan. Kadang pengen mencoba memakai sendiri, lalu teriak-teriak jika usahanya tak berhasil.

Nayla suka usil menggoda abangnya, yang usianya selisih 1 tahun. Kadang mengambil botol susu/mainan si abang lalu di dekapnya. Jika si abang hendak merebutnya kembali, maka dia segera berlari menuju arahku sambil tertawa-tawa. Berulangkali diteriaki marah oleh si abang, tapi tetap diulanginya lagi. Menunggu, mencari-cari kesempatan saat abangnya lengah perhatiannya terhadap botol susu/mainannya.

Jika si abang lagi tidur di kamar, maka Nayla akan mengetuk-ngetuk pintu kamar sambil manggil-manggil “Bang!” Mungkin dia kesepian, dan pengen ngajak abangnya main. Jika dibilangi si abang sedang bobok, dia menyingkir dari pintu. Tapi tak lama, pintu diketuk-ketuknya lagi.

Jika mendengar suara abangnya dari dalam kamar pertanda sudah bangun, maka Nayla akan ribut minta dibukakan pintu. Pintu terbuka, langsung dia lari masuk kamar lalu mencolek-colek abangnya sambil teriak-teriak seolah hendak bilang ‘ayo bangun abang, kita main’. Si abang yang baru bangun tidur, biasanya masih lesu dan pengen malas-malasan dulu. Alhasil, dia pasti marah dan tak jarang jadi menangis klo digangguin adiknya. Sering juga Si adik jadi sasaran pukulan tangan dan tendangan kakinya.

Mereka berdua kalau sudah bercanda, membuat saya sering senyum-senyum sendiri menyaksikannya. Kalau sudah ribut, bikin saya pengen ikut marah juga. Tapi bagaimanapun, saya coba menikmati saja membimbing dan membesarkan mereka.

Bosan Film Kartun

Sudah seminggu ini sulungku, 2 tahun 4 bulan, tak lagi mau melihat serial kartun yang pernah jadi favoritnya. Saat channel TV mampir memperlihatkan tayangan Upin Ipin, dia segera berteriak minta diganti. “Nggak mau pipin, Ma” katanya sebagai tanda saya harus segera mengganti channelnya. Saat ketemu Sponge Bob, dia juga nggak mau melihat “Nggak mau itu, ma”. Jadi mau lihat apa dong?

Masa sih anak segitu sudah bosan dengan tayangan kartun? Padahal kalau aku dengar cerita teman-temanku yang juga punya anak kecil, tak pernah ada cerita anak mereka bosan ama film kartun/animasi. Tapi kok si abang udah nggak mau lagi lihat upin ipin dan juga sponge bob.

Lihat The Owl dan Shaun the Sheep, dia masih mau. Jadi apa bener perkiraanku, bahwa dia bosan dengan kedua film itu.

Kalau bosan kartun, terus mau lihat apa dong? Masa mau diajak lihat sinetron yang jalan ceritanya makin nggak jelas dan banyak mengajarkan budaya hedonis. Aku aja nggak suka lihat sinetron.

Jadilah kuajak dia menikmati tayangan berita. Walau berita juga isinya nggak selalu positif.

Lha klo pas nggak ada tayangan berita? Ajak nonton DVD pembelajaran kesukaannya. Walau sudah hapal huruf, tapi dia tak bosan klo diajak nonton DVD mengenal huruf. Diselingi dengan DVD belajar mengenal angka. Jadilah hampir sepanjang hari putar DVD berulang-ulang

Mama aja vs Strika Mbak

Kali ini aku mau nulis tentang kepemilikan dan kebiasaan. Masih berdasarkan kasus yang terjadi di rumah.

Kasus 1 : Hari sabtu, karena libur jadi kegiatan memasak agak siang. Menjelang jam 7 si mbak datang. Kegiatan memasak tinggal satu lagi, yaitu menggoreng ikan. Ikan sudah dibumbui, wajan berisi minyak goreng sudah ditaruh diatas kompor. Tinggal nyalain kompor, nunggu minyak panas dan sreng sreng.

Si mbak berinisiatif menyalakan kompor dan hendak menggoreng ikan tersebut. Abang yang melihat mbaknya ke dapur dan menyalakan kompor langsung protes “mama aja” sambil mendorong-dorong saya untuk ke dapur. Maksudnya, si mbak nggak boleh menggoreng ikan. Mamanya, alias saya lah yang harus menggoreng ikan itu.

Kasus 2 : Setrika di rumah rusak. Karena memang umurnya sudah tua dan susah diperbaiki lagi, maka kami memutuskan untuk membeli setrika baru. Maka pergilah suami ke toko peralatan elektronik, abang diajak.

Sesampai di rumah, si abang langsung cariin mbaknya, menyeret bungkusan setrika dan dikasihkan padanya. “ini mbak”. Waktu saya minta setrika itu, untuk melihat modelnya, maklumlah barang baru, si abang melarang “ini trika mbak, bukan punya mama”

***

Dari kedua kasus diatas, saya berkesimpulan bahwa si abang selama ini mengamati kebiasaan yang kami lakukan di rumah. Si abang terbiasa melihat saya lah yang memasak. Sehingga jika ada orang lain yang mengerjakan pekerjaan itu dia akan memprotes. Tak hanya si mbak yang di protes, bahkan kala suami membantu saya di dapur pun dia akan protes. Melonjak-lonjak menyeret saya untuk ke dapur, mendorong-dorong papanya untuk meninggalkan dapur. Tapi kalau saya sedang tidak ada di rumah dan suami memasak di dapur, si abang santai aja saja. Membiarkan papanya memasak dengan tenang tanpa gangguan.

Si abang tak pernah melihat saya setrika. Saya memang memilih setrika di malam hari, kala mereka sudah tidur. Saya khawatir kalau saya setrika saat mereka terjaga, malah akan jadi kacau. Mereka pasti akan usil untuk ikut-ikutan meniru setrika, atau mengaduk-aduk tumpukan baju di keranjang.

Anehnya, mereka akan duduk manis kala si mbak setrika di siang hari. Mereka akan asyik main berdua, atau menonton DVD.

Karena si abang tak pernah melihat saya setrika dan sebaliknya sering melihat si mbak menyetrika disiang hari, maka dia beranggapan setrika itu punya si mbak.

***

Hasil pengamatan saya, si abang sudah belajar tentang tugas serta kepemilikan. Jika saya ada, maka sayalah yang memasak. Jika saya tak ada, maka papanya dan juga si mbak boleh menggantikan tugas saya.

Barang yang sering dilihatnya saya gunakan, maka itu adalah punya saya. Barang yang sering dilihatnya digunakan si mbak, maka itu adalah milik si mbak. Walau dalam kenyataannya, apa yang sering kita gunakan belum tentu adalah kepunyaan kita.